Monday, 23 March 2015

Pola Belajar Bagi Siswa

     Gagne menggolongkan pola-pola belajar siswa ke dalam delapan tipe di mana yang satu merupakan prasyarat bagi yang lainnya yang lebih tinggi tingkatannya. Masing-masing tipe dapat dibedakan dari yang lainnya dilihat dari kondisi yang diperlukan buat berlangsungnya proses belajar bagi yang bersangkutan. Pola-pola belajar siswa ke dalam delapan tipe sebagai berikut :
  • Tipe 1 Signal learning (belajar isyarat). 
   Tipe ini merupakan tahap yang paling dasar. Signal learning dapat diartikan sebagai proses penguasaan pola-pola dasar perilaku bersifat involuntary (tidak disengaja dan tidak disadari tujuannya). Dalam tipe ini penting untuk selalu memberikan stimulus tertentu secara berulang kali secara bersamaan.
  •  Tipe 2  Stimulus-Respon learning
   Bila tipe di atas dapat digolongkan ialah jenis classical condition, maka tipe belajar 2 ini termasuk ke dalam instrumental conditioning (Kimble-1961) atau belajar dengan trial and Error. Menurut Gagne proses belajar bahasa pada anak-anak merupakan proses yang serupa dengan ini. Kondisi yang diperlukan untuk berangsungnya tipe belajar ini ialah faktor inforcement.
  • Tipe 3 Chaining (Mempertautkan) dan Tipe 4 Verbal Associaon
    Tipe belajar 3 dan 4 ini setaraf, yaitu belajar-mengajar menghubungkan S-R yang satu dengan yang lain. Kondisi yang diperlukan untuk tipe belajar ini antara lain, secara internal anak didik sudah harus terkuasai sejumlah satuan pola S-R, baik psikomotorik maupun verbal. Selain itu prinsip kesinambungan, pengulangan dan reinforcement tetap penting.
  • Tipe 5 Discrimination learning (Belajar mengadakan pembeda). 
    Dalam tipe ini peserta didik mengadakan seleksi dan pengujian di antara dua perangsang atau sejumlah stimulus yang diterimanya, kemudian memilih pola-pola respon yang dianggap paling sesuai. Kondisi utama bagi berlangsung proses belajar ini adalah siswa sudah mempunyai kemahiran melakukan chaining dan association serta pengalaman (pola S-R).
  • Tipe 6 Concept learning (Belajar pengertian). 
     Dengan berdasarkan kesamaan ciri-ciri dari sekumpulan stimulus dan objekobjeknya, ia membentuk suatu pengertian atau konsep kondisi utama yang diperlukan adalah menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundamental sebelumnya.
  • Tipe 7 Rule learning (Belajar membuat generalisasi, hukum, dan kaidah). 
     Pada tingkat ini siswa belajar mengadakan kombinasi berbagai konsep dengan mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal (induktif, deduktif, analisis, sistesis, asosiasi, diferensiasi, komparasi, dan kausalitas) sehingga anak didik dapat menemukan konklusi tertentu yang mungkin selanjutnya dapat dipandang sebagai rule: prinsip, dalil, aturan, hukum, kaidah dan sebagainya. 
  • Tipe 8 Problem Solving (Belajar memecahkan masalah). 
      Pada siswa belajar merumuskan dan memecahkan masalah, merespon terhadap rangsangan yang menggambarkan atau situasi problematik, yang mempergunakan berbagai kaidah yang telah dikuasainya.


    Itulah pola belajar yang dapat kalian terapkan, semoga bisa bermanfaat untuk kalian semua yang membacanya.. Terimakasih.

1 comment: